Post Top Ad



The Relaxation Time

Berita Utama!

Post Top Ad

Runtuhnya Kerajaan Singhasari pada tahun 1292 M tidak serta-merta mengakhiri garis sejarahnya. Justru dari puing-puing kehancuran itulah lahir babak baru yang lebih besar. Di tengah kekacauan politik, pembantaian bangsawan, dan ketidakpastian masa depan, muncul seorang tokoh muda dengan karakter tenang namun tajam membaca keadaan: Raden Wijaya.


Raden Wijaya: Kesabaran dalam Kekalahan

Raden Wijaya adalah menantu Raja Kertanegara. Berbeda dengan mertuanya yang berani dan frontal, Wijaya memiliki watak sabar, cerdas, dan penuh perhitungan. Ketika Singhasari jatuh dan Jayakatwang menguasai istana, Raden Wijaya tidak memilih perlawanan terbuka. Ia tahu, kekuatan langsung hanya akan berujung pada kematian.


Dengan kecerdikan politik, Raden Wijaya menyerahkan diri kepada Jayakatwang dan berpura-pura setia. Ia meminta izin membuka hutan di daerah Tarik sebagai tempat tinggal. Permintaan itu dikabulkan karena Jayakatwang menganggap Wijaya tidak lagi berbahaya. Inilah kesalahan fatal sang raja Kediri.


Di Hutan Tarik, Raden Wijaya mulai membangun kekuatan baru. Bersama pengikut setianya—Nambi, Sora, Ranggalawe—ia membuka pemukiman yang kelak dikenal sebagai Majapahit, dinamai dari buah maja yang pahit rasanya, simbol penderitaan yang sedang mereka alami.



Datangnya Pasukan Mongol: Takdir yang Dimanfaatkan


Sementara itu, dari arah utara datang kekuatan besar: pasukan Mongol utusan Kubilai Khan. Mereka dikirim untuk menghukum Kertanegara yang dulu menghina utusan Mongol. Namun ketika mereka tiba di Jawa, Kertanegara telah wafat, dan Singhasari telah runtuh.


Di sinilah kecerdasan Raden Wijaya mencapai puncaknya. Ia melihat pasukan Mongol bukan sebagai ancaman semata, melainkan alat untuk menjatuhkan Jayakatwang. Dengan diplomasi licin, Wijaya meyakinkan Mongol bahwa Jayakatwang adalah penguasa Singhasari yang harus dihukum.


Jayakatwang: Kemenangan yang Terlena

Jayakatwang, yang semula tampak sebagai pemenang besar, mulai menunjukkan kelemahan karakternya. Ia terlalu percaya diri setelah berhasil menumbangkan Singhasari. Kewaspadaan melemah. Ia tidak menyadari bahwa musuh sejatinya tumbuh diam-diam di Hutan Tarik.


Ketika pasukan gabungan Mongol dan Raden Wijaya menyerang, Kediri tidak siap. Jayakatwang akhirnya ditangkap dan dihukum mati. Dendam sejarah Kediri terhadap Singhasari memang terbalaskan, tetapi hanya sebentar. Jayakatwang gugur sebagai raja yang berhasil membalas dendam, namun gagal membaca masa depan.


Pengkhianatan yang Menyelamatkan Jawa

Setelah Jayakatwang tumbang, Raden Wijaya berbalik arah. Ia meminta izin kepada pasukan Mongol untuk kembali ke Majapahit dengan dalih menyiapkan upeti. Namun sesampainya di sana, ia justru menyerang pasukan Mongol yang kelelahan dan tidak mengenal medan Jawa.


Serangan mendadak itu berhasil. Pasukan Mongol dipukul mundur dan terpaksa kembali ke negerinya. Jawa pun selamat dari pendudukan asing. Di titik inilah terlihat karakter sejati Raden Wijaya: bukan sekadar pejuang, tetapi negarawan ulung.


Lahirnya Majapahit: Dari Abu ke Kejayaan

Pada tahun 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Ia tidak memerintah dengan dendam, melainkan dengan penataan ulang kekuasaan. Para bekas pejabat Singhasari dan Kediri dirangkul, bukan dibinasakan.


Keruntuhan Singhasari akhirnya menemukan maknanya. Darah Kertanegara, kecerdikan Raden Wijaya, dan kesalahan Jayakatwang menyatu membentuk kerajaan baru yang kelak mencapai puncak kejayaan di bawah Hayam Wuruk dan Gajah Mada.


Makna Sejarah

Kelanjutan runtuhnya Singhasari mengajarkan bahwa:

  • Kekalahan bukan akhir bagi mereka yang sabar dan berpikir jauh

  • Kecerdikan politik bisa mengalahkan kekuatan militer

  • Dari kehancuran besar, bisa lahir kejayaan yang lebih agung


Singhasari runtuh, tetapi jiwanya hidup kembali dalam Majapahit—kerajaan yang kelak mengukir sejarah Nusantara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad