Kudus, Senin 2 Februari 2026, kami kisahkan berangkat pada awal abad ke-13, wilayah Tumapel (cikal bakal Kerajaan Singhasari) dipimpin oleh seorang akuwu bernama Tunggul Ametung, bawahan Kerajaan Kediri. Ia dikenal sebagai penguasa yang keras dan kurang disukai rakyat. Dalam pemerintahannya, muncul seorang abdi cerdas dan ambisius bernama Ken Arok, yang kelak mengubah arah sejarah Jawa.
Awal mula konflik bermula ketika Ken Arok melihat Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Menurut kisah dalam Pararaton, Ken Dedes memiliki wahyu keprabon (tanda ilahi calon ratu besar). Konon, cahaya bersinar dari tubuh Ken Dedes, pertanda bahwa siapa pun yang memperistrinya akan menjadi raja besar. Sejak saat itu, Ken Arok berambisi merebut Ken Dedes sekaligus kekuasaan Tumapel.
Untuk melaksanakan niatnya, Ken Arok memesan sebilah keris kepada Mpu Gandring. Namun karena keris belum selesai tepat waktu, Ken Arok memaksanya untuk diserahkan. Mpu Gandring menolak dan memperingatkan bahwa keris tersebut belum sempurna dan berbahaya. Dalam kemarahan, Ken Arok justru membunuh Mpu Gandring dengan keris itu. Sebelum wafat, Mpu Gandring mengutuk keris tersebut akan menewaskan tujuh keturunan Ken Arok.
Pembunuhan Tunggul Ametung dilakukan dengan siasat licik. Ken Arok meminjamkan keris Mpu Gandring kepada Kebo Ijo, seorang pengawal Tumapel yang gemar memamerkan senjata. Ketika Tunggul Ametung terbunuh, kecurigaan jatuh kepada Kebo Ijo karena keris itu dikenal miliknya. Akhirnya Kebo Ijo dihukum mati, sementara Ken Arok lolos dari tuduhan.
Setelah kematian Tunggul Ametung, Ken Arok menikahi Ken Dedes dan mengambil alih kekuasaan Tumapel. Dari sinilah Ken Arok kemudian memberontak kepada Kerajaan Kediri dan mendirikan Kerajaan Singhasari pada tahun 1222 M.
Adapun pertapaan Ken Dedes terjadi setelah tragedi berdarah tersebut. Dalam beberapa versi cerita, Ken Dedes digambarkan mengalami gejolak batin yang dalam: di satu sisi ia menjadi permaisuri penguasa baru, di sisi lain ia menyimpan duka atas kematian suami pertamanya, Tunggul Ametung. Ken Dedes kemudian melakukan pertapaan sebagai bentuk penyucian diri, pengendalian batin, dan pencarian ketenangan spiritual. Pertapaan ini juga menegaskan citra Ken Dedes sebagai sosok perempuan luhur, simbol kebijaksanaan, kesabaran, dan sumber legitimasi kekuasaan raja-raja Jawa.
Secara historis, kisah pembunuhan Tunggul Ametung dan pertapaan Ken Dedes menunjukkan bahwa lahirnya kekuasaan besar di Jawa tidak lepas dari intrik politik, ambisi, dan legitimasi spiritual. Peristiwa ini menjadi fondasi berdirinya Dinasti Rajasa yang kelak melahirkan Singhasari dan Majapahit.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar