Keutamaan ilmu agama memiliki kedudukan yang jauh lebih agung dan mulia di dalam Islam jika dibandingkan dengan keutamaan ibadah sunnah.
Prinsip mendasar ini diuraikan secara mendalam oleh Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc. di dalam e-book ringkasnya. Beliau menegaskan bahwa kesibukan dalam mencari, mempelajari, maupun mengajarkan ilmu syar'i bukan sekadar aktivitas akademis biasa, melainkan salah satu bentuk ibadah paling tinggi dan bagian dari perjuangan di jalan Allah.
Berikut adalah artikel lengkap yang disusun secara terstruktur, kaya informasi, dan siap diunggah ke website dakwah atau blog pribadi Anda.
Keutamaan Ilmu Agama: Mengapa Menuntut Ilmu Lebih Agung daripada Ibadah Sunnah?
Di dalam ajaran Islam, beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala adalah tujuan utama diciptakannya manusia. Namun, banyak di antara umat Islam yang belum menyadari bahwa aktivitas ibadah memiliki tingkatan kemuliaan yang berbeda-beda. Salah satu pembahasan penting yang sering diangkat oleh para ulama adalah perbandingan antara keutamaan menuntut ilmu agama (ilmu syar'i) dengan keutamaan menjalankan ibadah-ibadah sunnah secara personal.
Melalui karya tulis Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc. yang bertajuk "Keutamaan Ilmu Agama Lebih Agung Daripada Keutamaan Ibadah", kita diajak untuk memahami hakikat ilmu sebagai pilar utama dalam beragama. Tulisan ini akan mengulas secara tuntas dalil-dalil hadits shahih beserta penjelasan mendalam (faedah) dari para ulama salaf mengenai keagungan ilmu syar'i.
Landasan Dalil Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Keagungan ilmu agama di atas ibadah-ibadah sunnah lainnya bukanlah sebuah opini, melainkan sebuah ketetapan yang bersumber langsung dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terdapat dua hadits utama yang mendasari prinsip ini:
1. Hadits dari Sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan kecintaan beliau terhadap ilmu melalui sabdanya:
فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ“Keutamaan ilmu (syar’i) lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah.”
- Derajat Hadits: Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al-Bazzar, dan At-Thoyalisi. Hadits ini telah dinyatakan SHOHIH oleh Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shohih Al-Jami’ (Nomor hadits: 4214).
2. Hadits dari Sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu
Dalam riwayat lain yang menggambarkan perumpamaan yang sangat indah di langit malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ“Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan di malam purnama dibanding seluruh bintang-bintang.”
- Derajat Hadits: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (No. 3641) dan Imam Ibnu Majah (No. 223).
Perumpamaan ini memberikan gambaran logis yang sangat kuat. Bintang-bintang di langit memancarkan cahaya yang hanya cukup untuk menerangi diri mereka sendiri, sama seperti seorang ahli ibadah ('abid) yang pahala amalnya hanya kembali kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, bulan purnama memancarkan cahaya terang yang mampu menerangi seluruh bumi dan menjadi petunjuk bagi orang yang kegelapan, sama seperti orang berilmu ('alim) yang keberadaannya membawa manfaat bagi masyarakat luas. [1, 2]
Memahami Esensi "Faedah Hadits" secara Tepat
Agar tidak terjadi salah paham dalam mengonstruksikan makna hadits di atas, kita harus menyimak penjelasan (faedah) yang dijabarkan oleh para ulama.
Ilmu Agama Adalah Ibadah Paling Mulia
Maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendahulukan ilmu di atas ibadah bukanlah berarti menuntut ilmu dan mengajarkannya terpisah dari aktivitas ibadah. Sebaliknya, makna yang benar adalah bahwa mencari, mempelajari, mendalami, dan menyebarkan ilmu syar'i merupakan bagian dari amalan ibadah yang paling mulia dan paling utama.
Kedudukannya berada di atas amalan-amalan ibadah sunnah yang sifatnya personal, seperti:
- Melaksanakan shalat sunnah secara berlebihan.
- Menjalankan puasa sunnah secara terus-menerus.
- Berdzikir sunnah sepanjang waktu tanpa memperdulikan pemahaman agama.
Menuntut Ilmu sebagai Jihad fi Sabilillah
Menuntut ilmu agama memiliki bobot pahala yang setara dengan berjuang di jalan Allah. Sahabat Rasulullah, Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, memberikan tamparan keras bagi orang-orang yang meremehkan majelis ilmu dengan perkataannya:
“Barangsiapa yang mengira bahwa berangkat dari rumah menuju suatu tempat untuk menuntut ilmu (agama) bukan amalan jihad, maka sungguh ia telah kurang pandangan dan akalnya.” (Dikutip oleh Ibnul Qoyyim dalam Miftahu Daris Sa’adah, I/122).
Untaian Nasihat Emas Para Ulama Salaf tentang Ilmu
Kitab-kitab para ulama klasik dipenuhi dengan pembelaan dan penegasan bahwa meluangkan waktu untuk ilmu jauh lebih berharga daripada tenggelam dalam riyadhoh ibadah sunnah tanpa ilmu. Berikut adalah intisari pandangan mereka: [1]
1. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah (Ulama Besar Tabi'in)
Sufyan Ats-Tsauri memberikan dua catatan penting mengenai posisi ilmu:
- Keutamaan Mengajar: Beliau berkata, “Aku tidak mengetahui ada satu ibadah yang lebih utama daripada engkau mengajarkan ilmu (syar’i) kepada manusia.” (Lihat Jami’ bayanil ilmi, karya Ibnu Abdil Bar hal. 227).
- Syarat Keikhlasan Niat: Beliau juga menekankan pentingnya meluruskan niat, “Tiada satu amalan yang lebih utama dari menuntut ilmu jika niatnya benar (yakni ikhlas karena Allah semata).” (Lihat Jami’ bayanil ilmi, hal. 119).
2. Keseimbangan Antara Ilmu dan Amal
Sufyan Ats-Tsauri juga pernah ditanya mengenai dilema yang sering dihadapi penuntut ilmu: “Manakah yang lebih kau sukai, menuntut ilmu (agama) ataukah beramal?”
Beliau memberikan jawaban yang sangat bijaksana dan menjadi kaidah penting bagi kita:
“Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan tinggalkan menuntut ilmu dengan alasan untuk beramal, dan jangan tinggalkan amal dengan alasan untuk menuntut ilmu.” (Lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amal, hal. 44-45).
3. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah
Pernyataan Imam Asy-Syafi’i yang sangat masyhur di kalangan penuntut ilmu menjadi penutup faedah yang sangat berharga:
“Menuntut ilmu (agama) itu lebih utama daripada sholat sunnah.”
Mengapa Ilmu Lebih Utama dari Ibadah Sunnah? (Analisis Tambahan)
Untuk memperkaya konten website Anda, berikut adalah visualisasi dan poin analisis logis mengapa para ulama sepakat mendahulukan ilmu di atas ibadah sunnah: [1, 2]
- Jangkauan Manfaat (Al-Muta'addi vs Al-Qashir): Manfaat ibadah sunnah (seperti shalat sunnah) hanya kembali kepada diri pelakunya sendiri. Sedangkan manfaat ilmu bersifat luas; ia bisa menyelamatkan orang lain dari kebodohan dan kesesatan. [1, 2, 3, 4]
- Kelangsungan Pahala (Al-Atsar): Ketika seorang ahli ibadah wafat, amalnya seketika terputus. Namun, ketika seorang ulama atau penuntut ilmu wafat dan meninggalkan ilmu yang diajarkan atau ditulis, pahalanya akan terus mengalir hingga hari kiamat. [1, 2]
- Validitas Amal: Ilmu adalah syarat sahnya suatu ibadah. Ibadah yang dikerjakan tanpa landasan ilmu agama yang benar berisiko rusak, tertolak, dan tidak bernilai di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta'ala. [1, 2]
Kesimpulan
Ilmu agama adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan. Menuntut ilmu syar'i bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan sebuah kewajiban dan bentuk ibadah yang paling agung setelah amalan-amalan fardhu. Semoga pemaparan ilmiah dan mau’izhoh hasanah (nasihat yang baik) ini dapat membakar kembali semangat kita semua untuk terus belajar, mendatangi majelis taklim, dan mengamalkan ilmu di dalam kehidupan sehari-hari. [1, 2, 3, 4]
Sumber rujukan utama artikel ini diadaptasi dari materi dakwah e-Book Ibnu Majjah yang bersumber langsung dari blog resmi Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar