Sepeninggal Sri Jayanegara pada tahun 1328 M, Majapahit berada dalam keadaan genting. Raja kedua itu wafat tanpa meninggalkan keturunan, sementara luka politik akibat pemberontakan Rakuti, Nambi, dan Kuti masih terasa. Istana sunyi, tetapi di balik kesunyian itu, para bangsawan dan mahapatih berdebat sengit: siapa yang berhak naik takhta Majapahit?
Menurut adat dan garis wangsa Rajasa, hak tertinggi sebenarnya berada pada Gayatri Rajapatni, istri Raden Wijaya dan ibu dari putri-putrinya. Namun Gayatri telah memilih jalan suci sebagai bhiksuni Buddha, menanggalkan kehidupan duniawi. Ia menolak secara halus namun tegas untuk kembali ke singgasana.
Di sinilah muncul sosok penting: Dyah Gitarja, putri Gayatri dari permaisuri Sri Wijayarajasa. Atas restu ibunya, Dyah Gitarja dinobatkan sebagai raja dengan gelar agung:
Tribhuwana Tunggadewi: Ratu dengan Jiwa Raja
Tribhuwana bukan perempuan lemah sebagaimana anggapan zaman itu. Ia memiliki keteguhan, kecerdasan politik, dan keberanian. Sejak muda ia dididik dalam lingkungan istana, memahami hukum, tata negara, dan strategi kekuasaan. Naiknya ia ke takhta bukan sekadar simbol, melainkan kehendak politik yang matang.
Namun ia sadar, Majapahit tidak bisa dipimpin sendirian. Ia membutuhkan tangan kanan yang kuat, setia, dan berani.
Munculnya Gajah Mada
Dalam masa awal pemerintahannya, Tribhuwana mengangkat seorang pejabat Bhayangkara bernama Gajah Mada menjadi Mahapatih Amangkubhumi. Keputusan ini kelak mengubah arah sejarah Nusantara.
Gajah Mada adalah sosok keras, tegas, dan penuh tekad. Dalam Sumpah Palapa, ia berjanji tidak akan menikmati kenikmatan dunia sebelum seluruh Nusantara bersatu di bawah Majapahit. Banyak bangsawan mencibir sumpah itu, tetapi Tribhuwana justru melihat api besar dalam diri Gajah Mada.
Ia memberi kepercayaan penuh.
Masa Pemerintahan: Pedang dan Kebijaksanaan
Pada masa Tribhuwana Tunggadewi, Majapahit berubah dari kerajaan yang rapuh menjadi negara ekspansif. Pemberontakan Sadeng dan Keta berhasil dipadamkan. Wilayah Majapahit meluas ke Bali, Lombok, Palembang, dan daerah-daerah penting lainnya.
Namun Tribhuwana bukan hanya ratu perang. Ia juga pelindung agama dan budaya. Candi-candi dibangun, hukum diperkuat, dan keseimbangan antara Siwa-Buddha dijaga dengan bijak. Rakyat mengenalnya sebagai ratu yang tegas tetapi adil.
Di balik ketegasannya, Tribhuwana tetap seorang anak yang patuh pada ibunya. Ia memerintah atas nama Gayatri Rajapatni, dan selama sang ibu masih hidup, ia menganggap kekuasaannya sebagai amanah, bukan milik pribadi.
Turun Takhta dengan Kehormatan
Ketika Gayatri Rajapatni wafat pada tahun 1350 M, Tribhuwana melakukan sesuatu yang langka dalam sejarah Jawa: ia turun takhta dengan sukarela. Kekuasaan diserahkan kepada putranya, Hayam Wuruk, yang kelak membawa Majapahit mencapai puncak kejayaan.
Keputusan itu menunjukkan kebesaran jiwanya. Tribhuwana tidak melekat pada singgasana. Baginya, kekuasaan adalah alat untuk menjaga negeri, bukan tujuan hidup.
Makna Sejarah Tribhuwana Tunggadewi
-
Ia adalah ratu pertama Majapahit yang memerintah penuh
-
Ia meletakkan fondasi kejayaan Hayam Wuruk
-
Ia adalah tokoh yang melahirkan era Nusantara melalui Gajah Mada
-
Ia membuktikan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, tetapi karakter
Dalam sejarah Jawa, nama Tribhuwana Tunggadewi dikenang bukan sekadar sebagai ratu, tetapi sebagai ibu kebangkitan Majapahit—perempuan yang memegang takhta dengan tangan halus, namun berjiwa baja.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar